Monday, 9 November 2015

Please Stay Stay Stay

Hei kamu, aku tetap diam walau kamu menyodorkan pertanyaan (atau mungkin lebih pantes disebut pernyataan) yang sama karena butuh waktu untuk tahu apa perasaan ini dan bisa menjelaskan dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih jelas...

I don't want any separation, dear. Biggest reason adalah karena aku sayang sama kamu. Yup, klise dan cheesy banget. Namanya orang sayang, ya rasanya nggak mau pisah seburuk apa pun kondisinya. Kenapa? Karena masih sayang. Muter-muter di situ aja kan. Entah, nggak bisa dijelasin.

Kalo sayang, kenapa aku berulah? Ya.... karena that's how I am and that's how you are. Kamu bilang dari awal, kita udah beda. Tapi yang namanya hubungan, pasti ada berantem. Kadang sering, kadang banyak mesranya. Tapi aku cuma jadi aku yang sama kayak pertama kali kamu kenal, yang. Kalau berbeda, itu karena situasinya yang berbeda. Tapi aku nggak berubah.

Kalo dulu, aku bisa bebas pulang malem dan kamu ngebolehin ke mana-mana, ya karena aku masih ngekos. Aku ya juga hepi-hepi aja karena nggak ada masalah. Tapi sekarang kan situasinya beda, aku udah di rumah dan menempuh perjalanan setiap hari. Mulai ada aturan ini itu. See, apa yang beda? Situasinya. Aku tetep kayak gini dari dulu yang.

Makanya aku sedih kamu bilang, aku berubah. Feels like I fake personality since three years ago. Which I wasn't.

Alasan kedua kenapa aku nggak mau quit, is way more deep reason.
I feel like we ARE different, but we meant to be complete each other
Maybe we ARE different, but I believe we meant for something bigger
Aku yang keras kepala tapi bisa "menjual" dikombinasiin sama kamu yang introvert dan teliti dan well-organized, we shared so many common topics, aku bisa ngomong blak-blakan soal universe dan konsep Tuhan yang tabu, you making me more confident day by day, we explored and experienced so many things together. Just imagine what parents we made in the future. What generations we created later. Well, I still fight for us.

Yes, there will be big price in our relationship karena personaliti kita yang beda, itu lah kenapa kita sering berantem. Tapi aku suka bareng kamu, tahan bareng kamu, dan bahagia sama kamu.

So please, stay with me. I beg you....

--

About our problem, well maybe it's just my own problem.
Aku putus sama R*o*y karena hidup aku nggak bisa didikte sama dia. Aku putus sama R*i*a*n karena menurut dia aku terlalu independent. Aku putus sama A*t*r*a karena nggak suka diatur-atur bangun pagi. Hubunganku nggak baik sama orangtua karena aku kepengen lebih bebas. See, the same line every relationship I made. So maybe it's not I don't trust you, but it's me being stubborn. It's my incapability to become submissive (read: to surrender my life).

PS: Aku bintangin namanya biar nggak masuh search keyword

Kenapa? Menurut aku bukan karena aku nggak percaya sama orang lain. Tapi lebih ke, aku percaya aku selalu punya suara di setiap hubungan yang aku jalani. Suara ini akhirnya disalurkan dengan ngebantah, argue, ngedebat keputusan semua orang, dan keras kepala. Itu sih yang dominan. So please don't see me as if I don't trust you. It's me being sucks.

Plus, jalan berpikir aku yang nggak kamu terima. Terlalu logis, terlalu struktural. Ya gimana yang, ini adalah jalan berpikir yang aku latih bertahun-tahun di science way. Aku bukan menghapal kamu, aku cuma menerapkan jalan berpikir yang sama ke semua orang dan hal. Semuanya yang, ga cuma kamu. This is what I know for years, dan butuh usaha ekstra dan lama juga buat mengubahnya.

--

So please stay stay stay. I want you in my life. Please....

Wednesday, 10 June 2015

Heartless Bitch

It is happening again.
Seseorang mengganggap aku lebih mementingkan kerjaan daripada hubungan personal. Oh it's like dejavu to three years ago.

Jadi ada dua orang yang berbeda, pernah mengganggap aku mementingkan kerjaan daripada hubungan personal. Dua orang yang berbeda bilang aku nggak peka. Dan ya, mungkin aja label heartless udah ada di jidat aku dari dulu. Terpampang lebar-lebar dan nggak pernah ilang.

Mungkin bukan salah dua orang itu bilang aku terlalu mementingkan kerjaan. They can name it, kantor lah, kerjaan lah, deadline lah. Mungkin memang aku yang salah, selalu nggak tahu tempat dan prioritas. Terlalu patuh sama deadline sampe pacar sendiri aja ga diurusin. Yah kayak yang kamu bilang, ga peka.

Jujur rasanya sedih banget denger hal yang sama keluar dari ketikan kamu.Rasanya pengen motong diri sendiri sampe jadi potongan kecil, karena aku nggak layak untuk hidup. Siapa yang pantas hidup kalo ternyata tuh orang kerjanya cuma bisa bikin sedih orang di sekitarnya. Nggak berguna kan.

Dulu aku menyikapi hal ini dengan masa bodo dan nggak denger apa kata orang itu. Dan lanjut kerja untuk membiayai semuanya. Tapi berakhir dengan aku malah makin percaya bahwa aku heartless, tidak berguna, dan jadi orang paling jahat sedunia yang nggak pantes hidup. That is why I deserve physical pain, scars, and my own blood to redeem my sins.



Saturday, 30 May 2015

A Silence Could Mean One Paperwork

Aku pengen banget bisa mikir kalo aku lebih baik daripada apa yang aku pikir. Tapi belakangan ini, rasanya susah. Kamu selalu bilang aku kenyataannya lebih baik daripada yang pikiran-pikiranku bilang. Tapi in other hands, you give me bad names.

Aku nggak tahu mana yang harus dipercaya atau didengarkan.
Kamu selalu bilang kalo aku nggak bikin kecewa siapa-siapa. Tapi di lain waktu, kamu bilang aku stuck dan aneh. Am I freak? Am I that odd?

Salah satu sisi hati aku bilang "Iya kan, dia bilang aja lo itu aneh. Mana ada yang mau sama cewek aneh." Tapi di satu sisi lain, aku tahu aku nggak aneh dan apa yang kamu bilang aneh adalah emosi aku yang kamu lihat. Tapi saat bilang "aku nggak aneh kok" ke kamu, kamu bilang kalo aku nggak mau dengerin apa yang kamu bilang ke aku. Kan yang lihat luarnya kamu, kamu cuma kasih fakta kalo aku aneh. Masih aja keras kepala ngaku nggak aneh padahal aku bertingkah aneh.

Aku pengen percaya aja sama kamu. Yang mana rasanya lebih mudah. Nerima fakta bahwa aku aneh dan semua anggapan negatif yang aku bilang ke diriku sendiri memang benar. Rasanya lebih mudah kayak gitu. Burried myself into tears and forgotten. Pun kamu udah nggak peduli juga aku nangis apa nggak. Mungkin juga kamu udah terganggu dan ga nyaman sama emosi aku yang terlihat aneh. Maybe it's true that you do not care about how I felt and in fact,I am that odd.

Gimana aku mau berubah kalo, aku percaya omongan kamu bahwa aku emang aneh. In fact, aku sendiri udah ngebego-begoin diriku karena bertingkah aneh. I am odd. Who wants me, then? Pantes kamu ga nyaman, pantes kamu ga peduli apa perasaan aku, pantes aku ditinggalin. And nobody cares. What a pitty life.

Di satu sisi, aku tahu aku lebih baik dari apa yang kamu omongin ke aku, dan aku lebih waras daripada semua anggapan negatif dari diriku sendiri. Mungkin kamu yang cuma kurang bersyukur sama apa-apa pencapaian aku selama ini, dan ngerasa kamu sendirian. Sedangkan aku nggak kontribusi apa-apa di hubungan ini. Mungkin kamu yang cuma overthinking. Mungkin kamu cuma butuh liburan.

Aku ngerasa udah cukup baik dan nggak stuck. Aku tetep berproses. Aku bangun pagi, ngerjain kerjaan, ngusahain ini itu buat berdua, selalu nanya perasaan kamu gimana, kegiatan kamu apa, dan lain-lain. Yang mana sering kamu ga jawab karena mungkin kamu emang males jawab, udah kenyang ditanyain begituan, atau emang simply ga ngeh kalo aku nanya karena aku care. Aku selalu ngecek kamu okay apa ga, tapi ada satu waktu di mana kamu ga mau ditanya "you okay?" melulu. Padahal itu cara aku mastiin kalo aku udah on track belum, itu cara aku care sama kamu.

Tapi entahlah, mungkin aku cuma nggak tahu timing yang tepat untuk bertindak. Aku nggak tahu lagi kapan harus bersikap rasional, manja, atau biasa-biasa aja. Apa yang aku pikir "aku bertindak biasa-biasa aja", kamu bilang ga nyaman sama sikap aku. Tapi kamu nggak mau aku terlalu mikir apa yang musti aku lakukan di depan kamu. Aku serba salah. Jadi biasa-biasa aja dan bahagia, salah. Jadi overthinking dan nangis melulu juga salah.

Enggak, aku nggak capek. Cuma terus-terusan mikir, tindakan proper apa yang harus aku ambil biar kamu seneng. Iya, aku mau nyenengin kamu. Karena apa-apa yang kamu bilang punya efek ke aku. Saat kamu sedih dan give me bad names, ya aku akan percaya. Dan aku nggak mau itu terjadi, aku pengen kamu seneng. Nyenengin orang yang paling aku peduliin, apa salah.

Kamu sering nanya, emang apa sih yang ada di pikiran aku, emang apa yang aku pikirin. Ya jawabannya adalah hal-hal rumit yang aku tulis di atas. Tapi nggak bisa aku omongin karena kamu akan bilang "ah, ribet banget".

Kalo kamu ngerasa lah kan belum dicoba dibilang, udah ngebayangin reaksi kamu ini itu.
Sekarang bayangin deh, lagi di tempat umum trus kalo aku ngomong blak-blakan dan kamu emang ngerespon yang ga sesuai dengan aku harapkan, aku sedih banget. Mending aku selalu antisipatif, biar nggak sakit hati, dan kamu juga mungkin akan baik-baik aja. Win-win solution.

Atau mungkin kamu harus banyak kasih aku pengalaman bahwa kamu akan bereaksi baik-baik aja kalo aku ngomong blak-blakan. Setidaknya bantu aku buktiin bahwa worse scene itu emang cuma ada di kepala aku.

Aku cuma pengen kamu seneng yang. Bikin kamu seneng, buat aku seneng juga. Aku kangen denger kamu ketawa, relaks, dan nunjukin kalo kamu masih sayang sama aku. Atau mungkin that version of yoursef udah ga terlalu penting lagi buat kamu, karena kamu masih selalu ngerasa kurang? Ngerasa aku masih banyak kurang dan kamu udah males approach?

Terus aku mesti gimana?

Wednesday, 8 April 2015

I Know That We Can Be So Amazing

Kemarin malam, aku dan kamu kembali mengingat-ingat kejadian pas pertama kali kita ketemu, debar-debar pertama kali aku deketan sama kamu, pertama kali kamu ke kosan aku, dan semuanya. Lengkap dengan mantan yang kamu putusin demi aku (cielah), mantanku yang aku hiraukan demi kamu, dan betapa kejadian dalam satu malam itu mengubah semuanya.

Aku ingat tahun itu adalah tahun di mana aku menemukan seseorang yang dari dulu aku harapkan. Kita bertemu tanpa saling mencari. Jalan kita bersimpangan tanpa kita rencanakan sebelumnya. Sekarang udah hampir dua tahun aja kita jalan bareng :')

Kamu yang waktu awal ketemu, juteknya nggak bisa ketebak. Tapi aku ngeyel aja deket-deket kamu, walau sering bingung kamu tuh sebenernya suka sama aku apa nggak :))

Sekarang aku lagi buka-buka tweet archive kamu dan menikmati tweet awal kita ketemu terus akhirnya jadi pacaran di timeline. Dari semua perubahan yang kamu lakukan demi aku, ada satu hal yang bikin aku bersyukur banget sekarang. Kamu tuh dulu suka banget ngemention cewek lain terus flirting sama mereka. Walaupun belakangan aku tahu kamu bukan flirting, tapi itu adalah cara kamu ramah sama mereka. Tapi kan dulu aku nggak tahu ya. Aku pikir kamu emang orangnya nggak bisa bertahan sama satu cewek aja. Walau udah punya pacar, tetep aja tebar pesona sama cewek lain.

Dulu tuh aku sempet sediiih banget gara-gara ini. Keep on asking apa yang kurang dari aku sampe kamu harus cari "hiburan" di cewek lain. Walau kamu juga bilang bahwa mereka bukan tipe kamu, really not your type. Nganggep mereka cantik aja nggak, cuma sebatas kata-kata aja. Cuma ya cuma dulu kan aku nggak tahu. Dulu juga aku nggak berani nanya. Takut denger jawaban kamu, takut kalo ternyata memang bener kamu nggak bisa stick sama satu cewek doang.

Belum lagi kalau mereka pikir kamu beneran flirting sama mereka (which is mereka kegeeran), terus ngerendahin aku gara-gara liat pacarnya malah muji cewek lain bukannya pacaran di timeline. Yah, old thoughts of mine. Rasanya nggak enak banget dan terus-terusan merasa kurang.

Tapi ya kan kamu makin ke sini, berubah. Seiring dengan matengnya usia kamu, kamu mulai pay attention sama hal-hal yang penting aja. Seiring dengan semua kenangan dan memori yang kita buat, kamu makin sayang sama aku. Seiring dengan waktu yang kita habiskan, kamu makin luwes mengekspresikan kalo kamu sayang sama aku. Aku makin pede, seneng, dan merasa dicintai. Nothing beats being loved by someone you love. :')

Dan sekarang saat kamu dengan nyamannya gandeng aku selama jalan, menyentuh bahu atau pinggang aku setiap kali mau bergerak, nggak sungkan cium dan peluk di beberapa kesempatan, bikin aku seneng. I know you love me.

Ditambah punya kamu sekarang, rasanya kayak mimpi. Aku suka heran kenapa cowok sestabil dan  seganteng kamu suka sama aku :)) Kamu perhatiannya bukan main (sampe-sampe aku nggak bisa fake feeling lagi kalo ke kamu, kamu pasti nyadarin semua perubahan emosi aku), selalu bisa diandalkan, dan ngobrol sama kamu bikin otakku nggak tumpul. You know, it feels like I live my own dream.

Sayang banget ya mantan-mantan kamu nggak sempet mencicipi pengalaman dicintai sama kamu kayak aku. Ya iyalah nggak mungkin :)) Soalnya kombinasi aku sama kamu tuh, emang beda kan. Like there's something I do to you and something you have genuinely made an awesome relationship.

Aku tuh beruntung banget punya kamu, sayang.
Terima kasih ya dah mengizinkan aku untuk masuk ke dalam kehidupan kamu :)

Monday, 16 March 2015

My Magic Words

Ketika sedih menyeruak, air mata menggenang hampir tumpah, hati kacau balau dibutakan oleh kalimat tuduhan dan makian, aku hanya mengulang kata-kata ini:

Stay on the track, Din.

It could be worse. It could be worse.

Don't be emotional.

Jangan larut sama emosi yang hanya ilusi

Fokus sama to-do-list

Gue harus melakukan step apa selanjutnya

Kuasai diri lo sendiri

Lihat masalahnya dari outside. Jangan buat diri lo terlarut

Dan kadang-kadang aku dapat mendengar kamu sendiri yang mengucapkannya dengan nada yakin namun penuh kasih sayang. Aku nggak tahu dari mana kamu mendapatkan nada seperti itu. Tapi yang aku tahu, caramu mengatakannya membuatku tenang dan yakin. At least aku nggak akan melenceng karena yakin sama kamu.

Saturday, 14 March 2015

Right On The Track

Belakangan ini adalah salah satu dari masa-masa berat yang aku hadapi. Entah kenapa, timelinenya juga sama dengan tahun lalu. Februari-Maret menjadi bulan di mana aku menjadi depresi dan memberesi mentalku.

Aku biasanya menyembunyikan diri ketika sedang berada dalam kondisi ini. Pertama untuk menjernihkan pikiran, kedua agar tak ada yang melihat aku sedih atau menangis, dan ketiga agar tak ada yang bisa menyakitiku. Tapi tahun ini rasanya aku harus keluar dari cangkang. Dan kamu meyakinkan aku bahwa aku bisa berbicara apa saja kepadamu, membocorkan semuanya, memberitahu apa yang sebenarnya ku rasakan, dan dengan fakta kamu nggak mungkin menyakiti aku.

Aku membangun tembok tinggi-tinggi agar tak ada yang bisa melewatinya dan sengaja melemparkan kaca beling. Aku membangun sekat yang berlapis agar orang yang benar-benar peduli padaku saja yang bisa menembusnya. Tapi kamu selalu tanya, buat apa. Buat apa aku capek-capek berusaha membangun sekat dan dinding, kamu toh bukan salah satu orang yang mau sengaja menyakitiku. Setidaknya aku tahu bahwa itu kebenaran dari kata-katamu yang belakangan ini sudah kamu atur sedemikian rupa untuk nggak mengusikku. Untuk nggak mengusik naga yang kehilangan kumisnya.

Aku bilang "nggak enak rasanya ditusuk", kamu bilang "nggak akan terasa kalo kulitnya udah keras". Well, sekali lagi kamu benar. Aku kan nggak bisa mengatur apa yang ingin orang katakan atau lakukan kepadaku, tapi aku bisa melatih agar "kulit"ku keras sehingga nggak terlalu memasukkan kaca beling itu ke dalam organ lembekku.

Dan di saat sedih, panik, serta cemas di beberapa hari ini, aku sayup-sayup bisa mendengarmu berkata "at least kamu harus tetep right on the track". Saat aku sedang ingin mencakar pipiku, at least pekerjaanku beres. Saat aku ingin menangis selama dua jam, at least kamar sudah dipel. At least aku masih right on the track. Itu yang terus menerus aku ulang. Aku nggak boleh buta karena cemas, panik, sedih, atau stress. Sebenarnya yang memicu mereka pun hanya ilusi. Jadi aku sebaiknya nggak mengorbankan hal-hal penting lainnya.

Saat ini mungkin aku bukanlah The Duke yang ditulis John Green di novel Let It Snow. Aku bukan tipe cewek percaya diri yang selalu punya rencana di tiap kesulitan dan kebuntuan. Itu peranmu. Tapi at least aku nggak mau jadi cewek yang tengelam dalam sedihnya sehingga menciptakan masalah baru. Seperti yang kamu selalu bilang, kejernihan berpikir saat dikuasai emosi dan panik, bisa dilatih. Dan aku sedang melatihnya sedikit demi sedikit.

Sunday, 8 March 2015

Menjadi Manusia Dua Puluh Empat Tahun

Aku bermasalah dengan orang tua? Bukan cerita baru. Sejak SMP pun, aku memang nggak pernah bisa benar-benar akur dan terbuka sama mereka karena satu dan lain hal. See, keluarga yang paling adem ayem sekali pun punya masalah.

Aku ingat rasanya menjadi anak yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Perasaan untuk melancong, kabur, memberontak, dan pikiran-pikiran idealis masih dirawat. Aku banyak bertengkar dengan mereka. Statusku pun pada saat itu, masih pacaran sama cowok yang usianya sepuluh tahun di atas aku. Sekarang usiaku sudar dua puluh empat tahun dan tadi siang aku baru saja berantem sama orang tuaku. Rasanya seperti kembali ke masa-masa delapan tahun lalu.

Tapi dengan situasi yag berbeda. Dulu, aku merasa seperti diprovokasi oleh mantanku. Saat aku bilang aku kesal dengan orang tuaku, alih-alih meredakan dan meluruskan persepsi, ia selalu menambahkan kalimat yang membuat aku makin sebal dengan orang tuaku. Sekarang aku bisa melihat bahwa dia memang nggak pernah respek sama orang tuaku. Mungkin memang benar orang tuaku nggak sempurna, tapi memanas-manasi kan bukan hal yang baik.

Ayahku memang keras, tapi ia bijaksana. Ibuku memang punya masalah dengan kata-kata yang dilontarkannya saat ia marah, tapi at least sebenarnya dia baik. Aku tidak menyukai sisi-sisi buruk dari keda orang tuaku, tapi aku tahu aku tetap anak mereka. Dan setidaknya aku harus tahan dengan mereka sampai aku menikah nanti.

Tadi siang sehabis Ibuku puas melontarkan kata-kata jahat, aku menelepon kamu dan yah kamu tetap tenang. Aku bilang aku ingin kabur, sambil terisak dan kesulitan mengambil napas. Pada kesempatan pertama, aku ingin sekali kamu bilang "Ayo, nggak apa-apa kabur aja. Aku ada di sini, dan kamu setidaknya bisa mendapakan tempat tenang untuk berpikir dan membereskan semuanya". Tapi makin panjang aku menjelaskan aku pengen kabur, aku merasa makin mirip dengan Ibumu. Yang kamu bilang adalah tindakan yang konyol dan jelas-jelas tidak menyelesaikan masalah.

Ya, kabur adalah ide yang konyol. Aku mingkin hanya terprovokasi dengan Margo Roth Spiegelman. Tapi tentu saja aku bukan Margo Roth Spiegelman, dan orang tuaku bukan orang tua Margo Roth Spiegelman. Jadi tampaknya aku sama-sama setuju denganmu bahwa kabur adalah tindakan yang konyol, oh dan kekanak-kanakkan. For God's sake, aku udah dua puluh empat tahun. Geez.

Lalu kamu memberikan saran yang sejujurnya tak bisa aku setujui sepenuhnya, karena aku memang masih sebal ke orang tuaku. Tapi kamu memang benar, kalo mau masa depan masih tersegel rapi, aku harus menyayangi orang tuaku dan mengikuti cara main mereka dulu sambil berkelit di sela-sela kesempatan. Karena kalau aku mengacau sekarang, bisa saja hal-hal yang berhubungan dengan aku dan kamu ke depannya nggak mulus. Saran yang benar memang rasanya pahit. Tapi rasanya lebih baik daripada harus memberi makan ego terus-terusan.

Setelah percakapan 39 menit denganmu, aku masih merasa sedih tapi setidaknya lebih waras daripada sebelumnya. Aku tidur banyak-banyak, layaknya orang yang memang merasa sedih, dan bermimpi tentang aku dan kamu kabur dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi setelahnya aku dibangunkan oleh teleponmu, dan seperti ditepuk halus. Aku kembali ke realita yang mana harus aku jalani.

Terima kasih sayang sudah bersedia sabar. Aku masih butuh kamu di sini.

Monday, 16 February 2015

Less Vulnerable

Kadang aku nggak tahu bagaimana harus berdiri di tengah-tengah definisi "too emotional" sama "heartless". Rasanya susah harus memisahkan mana yang harus dibawa hati, atau mana yang harus disembuhkan oleh waktu.

Dulu aku nggak gampang bawa emosi ke apapun. Rasanya kalau ada masalah, cukup duduk beberapa menit, tunggu sampe lawan bicara omongannya waras dan nggak dikuasai emosi, baru nanti aku bicara dan masalah selesai. Dulu cara ini ampuh banget aku pakai sampai seseorang memberiku label "heartless". Orang yang nggak mau berempati, bersimpati, orang yang nggak bisa ngerti penderitaan orang lain dan terkesan sibuk dengan kebahagiaan diri sendiri.

Aku cukup terpukul dengan label itu. Karena label itu benar. Aku memasang sekat agar diriku sendiri minim dilukai orang. Dengan menyibukkan diri sendiri dengan apa yang ada di depan, dengan sederet kerjaan, dengan hal-hal yang aku sukai agar aku tetap waras. Ya, sebut aku heartless karena memang aku nggak pandai membujuk orang, melenakan orang dengan penderitaan mereka, aku nggak bisa menangis bersama penderitaan orang lain.

Tapi, makin ke sini aku berpikir, mungkin memang aku heartless. Aku nggak cukup berempati sama orang lain dan seharusnya itu nggak boleh diteruskan. Bahwa kalau ada masalah, ya harus diselesaikan saat itu juga, yang berarti aku juga masih bawa emosiku untuk menyelesaikannya. Ada kelebihan dan kekurangan, tapi aku berusaha jadi orang yang lebih mau mendengarkan dan mencoba mengerti penderitaan orang lain.

Sampai sekarang, rasanya aku kelewat batas. Bukan lagi berempati atau bersimpati, tapi malah aku ikut emosional setiap kali masalah datang. Apalagi jika itu adalah masalah kita. Aku nggak bisa tidur sebelum masalahnya selesai. Kadang masalahnya memang kamu yang kelewat rindu sampai akhirnya uring-uringan. Masalah sesederhana itu saja aku anggap adalah final problem yang harus diberikan perhatian secara seksama. Terus aku pasti memberikan penjelasan panjang lebar dan cemas sampai bantalku basah hingga sesengukan karena kamu nggak ngangkat telepon di satu jam pertama. Iya, kelewat batas kan aku.

Ditambah kecepatan akselerasi otakku yang ritmenya lambat. Nggak bisa memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan, spekulasi dan asumsi di sana sini, terlambat mengetahui aku kepengen apa sebenernya, mengurai inti masalah dan memberikan solusi yang nggak diproses seketika. Bikin masalahku ini tambah runyam. Mungkin aku harus sering-sering melatih akselerasi otak biar nggak bikin masalah tambah banyak.

Aku kepengen berdiri di tengah-tengah definisi "heartless" dan "too emotional". Aku ingin masih bisa merasakan sedih, tapi juga nggak terlarut di dalamnya. Aku pengen bisa bebas buka sekat tanpa harus takut terluka. Toh, sebenernya terluka atau nggak itu kan pilihan aku. Orang lain nggak bisa menyakiti aku tanpa aku izinkan. I have to be less vulnerable.

Sabar ya sayang. Aku mau ngelatihnya sedikit demi sedikit. Semoga jatah kesabaranmu belum habis sampai aku berhasil.

Saturday, 10 January 2015

Being Written by You

Jadi tadi siang saat membereskan kosan kamu, aku nggak sengaja menemukan satu binder kecil di lemari kamu. Karena penasaran aku buka isinya. Ku pikir, aku udah tahu isinya atau at least udah pernah baca, tapi ternyata yang ini belum.

Isi beberapa halaman pertama binder itu adalah tentang mantan gebetan kamu. Kamu buat prosa lengkap dengan ilustrasinya. Kata-katamu mengalir indah, bahkan perasaan cemburuku sedikit reda oleh perasaan kagumku melihat diksi indah yang berhasil kamu tuangkan.

Dikristalkan menjadi sebuah prosa atau kata-kata pasti menakjubkan sekali rasanya. Seperti memori masa lalu yang dibekukan beserta basahnya perasaan yang ada saat itu. Sifatnya abadi dan spesial, tak peduli apa yang terjadi sesudahnya. Tak peduli apakah hubungan itu berjalan lama atau kandas di tengah jalan.

Mungkin memang benar kamu harus dibuat penasaran atau sedih agar keran kata di jemarimu bergerak menuangkan momen. Tapi tampaknya aku tak pernah berhasil membuat kamu penasaran selayaknya yang kamu inginkan. Hey, tapi bukankah penasaran itu sifatnya tak stabil, sedangkan keterbukaan lah yang membuat sebuah hubungan awet. Sedangkan membuatmu sedih, oh dear that is the last thing I want to happen. Karena aku percaya, aku memang diciptakan sebagai obat untukmu.

Tapi sudahlah, tak perlu kamu risaukan. Itu hanya intermezo sekilas. Karena saat ini yang terpenting bagiku adalah kamu sehat, bisa balik ketawa lagi, bisa main gitar dan bass lagi tanpa kesakitan, bisa makan enak lagi, dan mampu menginjakkan dua kaki lagi bersamaku.

Shuffled on Radio

I'd go hungry,
I'd go black and blue,
And I'd go crawling down the avenue
No, there's nothing that I wouldn't do,
To make you feel my love

I could make you happy,
Make your dreams come true,
Nothing that I wouldn't do
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love

- Make You Fell My Love by Adele

Didengarkan sehabis pulang dari kosan kamu habis jagain bedrest setelah pulang dari rumah sakit. Cepat recover sayang, aku rela melakukan apa pun demi kamu sehat dan bahagia.