Wednesday, 31 December 2014

In The Sickness Of You...

"All that really matters is that the people you love are happy and healthy. Everything else is just sprinkles on the sundae. - Paul Walker"

Aku kira, quotes ini hanyalah salah satu dari sekian quotes yang maknanya ku abaikan. Sampai datang hari ini.

Aku masih ingat hari di mana kamu bersikeras menerobos hujan untuk mengantarkan makan malam ke kosanku. Dan paginya kamu dengan kesadaran ada dan tidak, harus menerobos banjir demi menyelamatkan motor dari rendaman air hujan. Aku pikir, semua akan baik-baik saja di kemudian hari.

Sampai datang hari selanjutnya, ketika demammu tak kunjung reda di hari ketiga. Aku bersikukuh untuk membuatmu mau ke dokter. Yang menghasilkan diagnosa tipes lagi-lagi kambuh dalam badanmu.

Aku menguatkan badan dan perasaanku untuk membawamu ke tempat di mana aku bisa dengan bebas merawatmu. Rasanya air mata udah mau tumpah karena nggak tega melihat kamu menggigil dan kesakitan. Tulang nyeri, begitu tambahmu. Oh please, bisakah aku saja yang sakit? Apa pun, asal tidak kamu.

Malam itu, karena mengantri berkali-kali di dokter, tubuhmu kepayahan. Demammu sudah tak tega lagi ku taksir derajatnya. Begitu panas, sampai memegang dahimu saja sudah membuatku tercekat menahan tangis. Aku nggak tega. Kamu malam itu mengerang kesakitan, berkali-kali mengigau dengan suara parau, memanggil namaku, merengek, mengeluh, dan hilang kendali atas dirimu sendiri. Sesuatu yang belum pernah aku lihat, sesuatu yang tak berani aku bayangkan sebelumnya. Kamu begitu kesakitan, dan satu-satunya pintaku cuma kesembuhanmu.

Untung saja malam itu lampu sedang padam dan kamu begitu tak sadarkan diri untuk menyadari bahwa aku gemetar hebat mengatur napas agar sendok yang kusuapkan tak terlalu sering meleset, agar kata-kataku terdengar yakin untuk membujukmu makan, agar menengangkan diriku sendiri. Apa pun agar demammu mereda. Malam itu, berkali-kali aku ingin bertransformasi menjadi sel darah putih di aliran darahmu, siap bertarung sampai kamu pulih.

Semakin banyak tidur, kamu semakin waras. Tapi siklus demamnya selalu berulang. 
Pertama, badanmu demam tinggi, tanpa keringat, namun kamu menggigil hebat. Pada fase ini, tulangmu terasa ngilu dan berkali-kali mengejang. Kamu bersikeras untuk memakai selimut karena kedinginan, sedangkan aku selalu bersikeras untuk mengompres badanmu dengan lap basah agar setidaknya suhu tubuhmu normal, sampai akhirnya kamu tertidur. 

Lalu datang fase dua, di mana tubuhmu bersimbah keringat, baju yang sudah berlapis-lapis, basah. Biasanya kamu terbangun dan meminta baju ganti. Aku selalu lap ulang badanmu dari keringat dengan lap basah, baru memakaikan bajumu lagi. Setelah itu, kamu akan tidur dengan selimut tipis atau tidak berselimut sama sekali.

Yang terakhir fase ketiga, ketika kamu terbangun lagi dengan mata segar, suhu tubuh normal dan tidak berkeringat. Kamu biasanya bilang kalau kepalamu nggak lagi pusing, lehermu sudah baik-baik saja. Bahkan kamu sudah bisa duduk atau berdiri tanpa sempoyongan. Makin ke sini, durasi fase ini, jangka waktunya semakin panjang. Tapi, kamu selalu berakhir dengan mengaku pusing, lalu tertidur dan fase satu terulang kembali.

Dan katamu, obat dari dokter bikin tidurmu nggak tenang. Oh dear, rasanya uang bukan masalah asal kamu bisa sembuh. Rasanya tak peduli ini adalah malam tahun baru, asal demammu mereda. Berkali-kali kamu terbangun dengan berteriak atau merengek karena suara petasan. Duh, aku mana tega, sayang...

Aku bakal terus ada, ngurusin kamu dan nggak ninggalin kamu. Aku cuma pengen kamu sembuh, biar bisa digodain sama diisengin lagi sama kamu, biar bisa main ke timezone lagi, biar bisa jalan-jalan lagi. Ya bener kata quotes di atas tadi, apa lah arti keluhan aku sehari-hari, yang terpenting cuma melihat kamu senmbuh dan bisa ketawa lagi, sayang...

Get well very soon, dear.
I love you.

Friday, 26 December 2014

Sesuatu yang Tak Seharusnya Aku Lupakan

"I really need to talk to a person right now", itu yang aku bilang ke kamu siang ini saat kamu nanya soal keadaan mentalku yang belakangan sedang tidak baik.

Aku dalam tahap sadar bahwa aku punya masalah. Percaya diri yang menurun drastis, ketakutan tak pernah sempurna untuk orang di sekitarku, dan yang paling fatal adalah I lost my self pride. Kayaknya udah hampir sebulan aku dihantui dengan mimpi buruk setiap malam, mengingat bahwa aku bawa masalah ini ke alam bawah sadar. Pernah akhirnya merangkak naik, tapi ya ada aja masalah yang belum selesai jadi aku belum pulih seluruhnya.

Aku pernah ada dalam masa-masa seperti ini juga dua kali. Pertama waktu SMA, kedua waktu peralihan SMA-kuliah. Keduanya berawal buruk dan aku harus menyeretkan kaki agar naik ke permukaan normal. Apa lagi saat itu, aku belum sematang sekarang. Namanya juga sedang dalam masa peralihan, banyak prinsip hidup yang sedang digodok. Ngeliat hal itu, seharusnya masa turun aku yang sekarang dapat diatasi lebih cepat dan lebih baik karena aku pernah mengalaminya dan pernah keluar darinya.

So that I ask for help.
Gambar dari sini

Beberapa waktu kemudian, kamu ngajak keluar sambil makan. Aku memang lapar, tapi beneran nggak berniat makan berat. Entah kenapa nafsu makanku menurun banget, biasanya kalo diajak makan paling doyan. But I said to my self that I need to take myself out in terms of refreshing a lil bit. Sebelumnya, aku juga udah mulai menenangkan diri dengan menulis beberapa postingan blog. Lumayan meringankan sedikit.

Moodku saat itu kayak muka segaris. I mean, I am tired of feeling guilty and low. I really want to defeat it and win. Aku nggak mau memasrahkan diri pada perasaan yang jujur bikin aku merana.

It was at Yoshinoya Mall Atrium, You started the conversation with value. Topik yang mana belakangan ini jarang aku pikirkan. Kamu tanya apa value yang aku punya selama ini, value apa yang aku punya tapi kamu ga punya, value apa yang menguntungkanku. Mendadak aku merasa malu. Hal-hal kecil yang secara sadar dan nggak sadar aku lakukan adalah value yang aku punya, dan aku harus bangga akan itu Sesederhana kalau makan selalu rapi, buang tempat sampah selalu di tempatnya, nggak terbiasa menghakimi orang in first place, easy-going yang bikin orang nggak ribet di sekitarku, atau mudah sekali mencari teman.

I never thought about this before as a real value of my self. Karena refleks melakukannya, aku jadi lupa untuk menghargainya. Memang membandingkan diri dengan orang lain nggak melulu baik, tapi kamu nunjukin kalau di masa-masa begini ngeliat perbandingan diri lebih maju daripada orang lain itu perlu untuk mengembalikan percaya diri dan pride. Aku jadi..... speechless.

Soal fisik apalagi, mungkin pacar aku yang dulu benar-benar bilang "aku nggak suka sama cewek gendut, kalo kamu masih gendut juga ya jangan salahin kalo aku nggak suka sama kamu". Tapi, itu kan dulu. Aku sekarang udah nggak sama dia yang nggak menghargai aku. I am now with someone else who could see me in different way. Waktu sama mantan, disuruh kurus nggak pernah kesampean. Eh pas sama kamu , badan saya malah tambah langsing walau dibebaskan punya angka timbangan berapa pun.

Kamu menyadarkan aku betapa aku harus ngerasa beruntung sama badanku. Bisa kurus, bisa gemuk, bisa langsing sesukaku, asal aku mau. Aku dari kecil sampe sekarang nggak pernah statis gitu berat badannya. Pasti beda-beda. Anehnya lagi, pakai baju kamu yang jelas-jelas ukurannya jauh di bawah ukuran normal bajuku, malah muat. Pun, aku punya tinggi yang semampai. You mean it as a real advantages for me. Aku jadi malu, aku nggak seharusnya ngeliat diri sendiri serendah itu. I am enough good, kok. :)

And the most important part is, ada banyak perempuan lain di luar sana yang lebih tinggi, kurus, cantik, lebih pinter padu padan baju dan jilbab, yet you choose me. Why? Because there are a bunch of values I have which they don't. I should be proud of this. I should be thankful. I should set my head up.

Kamu menambahkan bahwa ngedengerin semua kata orang lain (termasuk kamu) itu nggak pernah ada manfaatnya untukku. Orang lain boleh ngomong apa saja tentang aku, kepadaku. Tapi yang jadi penentu keputusan tetap aku. Takut dan merasa bersalah harusnya nggak ada dalam pilihan reaksi pertama yang aku lontarkan pada mereka kalau mereka lagi mengutarakan opini. Dibawa santai aja, kalo emang aku udah berusaha, nggak usah takut. Selow aja.

Dan soal kuliah, aku seharusnya berfokus pada proses. Bukan masalah wisuda, kalau udah belajar dan berusaha semampu saat di kelas, aku pasti akan lulus kok. Prosesnya lah yang harus aku nikmati. Then, if it can't help, let's change the word "kuliah" into "college". Ada imaji yang berbeda yang dihasilkan dari kata college. Instead of saying "kuliah" which makes me sick of remember horrible things. Brilliant idea, I must admit. ;)

Gambar dari sini

After hours of talk, I feel a lot better.

Berhubung aku orangnya pelupa, makanya catatan ini ada. Jadi kalau di masa depan aku jatuh di lubang yang sama lagi, aku nggak akan capek-capek buang waktu dan emosi untuk bertarung keluar dari dalamnya. Cukup baca postingan ini dan menyeret kakiku keluar perlahan.

I dedicated a whole complete package of thank to you for giving me a helping hand. Untuk tidak meninggalkanku di saat terendah.Untuk tetap memegang tanganku, menguatkanku hingga garis finish. Untuk tidak berkata "kamu urus masalahmu aja dulu, nanti kalau udah kelar baru balik ke aku" di saat seperti ini. Untuk tetap menyayangiku saat aku sangat membutuhkannya. Terima kasih sudah menjadi penyelamatku. Love us the most.

-- 18 Februari 2014. Tulisan ini dipindahkan dari blog sebelumnya

Kan Kemarin Baru Ketemu....

Aku yakin saat seseorang bilang "aku kangen sama kamu" itu bukan merindukan eksistensi orang tersebut. Tapi rindu akan masa-masa bahagia yang pernah dia lalui dengan orang tersebut. Dia rindu momen itu bisa terulang lagi di kesempatan waktu yang lain.

Tapi, kamu bisa sebut aku anomali.

Saat aku merindukanmu, dan terus-terusan bilang "aku kangen, pengen ketemu", itu artinya aku memang rindu akan sosokmu. Nggak peduli kamu datang dengan mood berantakan habis nyemprot orang, mood swing, atau mood males karena nggak bisa menemukan baju yang cocok untuk dipakai jalan, aku tetap senang melihatmu.

Walau sesudah itu, misalnya kita berantem, kita beradu pendapat, kamu kesel sama aku, dan lain-lain, tapi yang namanya rinduku, selalu lunas ketika aku bertemu kamu. Sosok kamu yang nyata. Nggak ada kata nyesel karena ketemu kamu yang moodnya sedang berantakan. Aku selalu senang ketemu kamu, sesingkat apa pun itu. Walau aku harus pulang lagi, tapi setidaknya aku udah ketemu kamu.

Sayang, rindu itu variabelnya bukan jarak atau waktu. Kamu harus pahami itu.

Saturday, 20 December 2014

Mas Mas Jawa Biasanya Emang Sabar

You know, something is more worthy if we know that it was impossible to reach.

Namanya manusia, ada aja hal yang bikin nggak sempurna. Aku yang pelupa, kamu yang susah punya teman atau sahabat. We meet in one package of personality. Lalu kemudian karena setiap hari bertemu, kepribadian aku dan kamu lama-lama melebur. Berubah ke arah lebih baik, atau berubah untuk menyeimbangkan masing-masing sisi.

Aku yang dulu sama sekali nggak bisa bangun pagi selama bertahun-tahun, kini bisa. Kamu yang parno banget sama duit, kini mulai perlahan melunak dan berkurang ketakutannya. Tapi, sifat pelupaku ini mungkin punya porsi yang besar untuk diperbaiki. Begitu juga dengan masalah percaya diri, yang merangkak naiknya seperti siput.

Aku tahu kamu aslinya bukan orang yang cukup sabar untuk menunggu orang berubah. Tapi, aku tahu kamu berusaha untuk sabar. Untuk tetap berbicara padaku pelan-pelan. Bahwa kebiasaan jelekku harus diubah biar nggak terulang berkali-kali. Bahwa aku harus teliti, peka, jeli, ingat hal-hal penting, dan nggak terus-terusan menyerang diri sendiri. Aku bisa lihat kalo kamu sabar banget ngadepin aku. Seorang kamu, mau nunggu dan mengalokasikan waktunya biar aku berubah, itu.... bikin aku seneng.

Kamu belajar bahwa aku nggak bisa dibentak, nggak bisa dikasih tekanan, mungkin memang sabar kuncinya. And I want you to know that I am trying to change. For me, for all the goodness that surely come if I changed. Aku cuma butuh kesabaran kamu dan pengertian kamu bahwa aku butuh waktu banyak untuk pegang helm, kunci, makanan, atau jaket sekaligus dan menjaga agar mereka nggak tertukar atau jatuh atau terkesan ribet. Aku butuh pengertian bahwa setiap kali beberes mau pulang, aku butuh waktu beberes lebih dulu dari kamu. Biar nggak asal masukin barang dan nggak nyenggol kabel. Juga aku butuh waktu ekstra untuk menyiapkan uang parkir biar dompet ga jatuh dari tas (atau barang lain yang jatuh dari tas) dalam waktu yang cepat tapi nggak terkesan ribet.

Dan aku senang, bahwa kamu tahu dan kamu memang selalu sabar nungguin aku. Bahkan sebelum tulisan ini dibuat. Bahkan sebelum aku minta untuk kedua kalinya.

Dan soal aku yang selalu memikirkan banyak hal yang nggak perlu, sampe mungkin akhirnya menyerang diriku sendiri. Aku angkat jempol buat kamu yang selalu dengan lembutnya pegang tangan aku, look me in the eyes, dan ngomong kata-kata lembut bahwa kamu nggak apa-apa, bahwa semuanya baik-baik aja. Bahwa harusnya masalah kecil nggak perlu dibesarkan. Bahwa aku nggak seburuk itu, bahwa aku nggak bikin kecewa siapa-siapa.

Kamu memang nggak obral kata "I love you" setiap hari.
Tapi, kamu menggantikannya dengan "Tenang aja sayang, nggak usah buru-buru", "aku tungguin kok, kamu selo aja", "hey hey, semuanya baik-baik aja kok, aku nggak apa-apa. jangan dipikirin ya", dan "kamu nggak seburuk yang kamu pikirkan kok".
Dan sejak itu, aku tahu kata sayang nggak hanya berbentuk "I love you" aja :)

Saturday, 13 December 2014

Weekend Is Nightmare, Katamu...

Meninggalkan kamu saat weekend adalah satu dari sekian pekerjaan terberat yang sangat enggan aku lakukan. Rasanya seperti aku pergi dengan sebelah hati, rasanya sulit, rasanya tak menyenangkan. Tapi kamu selalu bilang "kalau kangen, ya pulang. Nggak usah ngomong doang". Oh dear, I know you are right.

Aku tahu di setiap weekend yang tak bersama, kamu selalu menahan rasa ingin menceritakan detail weekendmu, karena terlalu sedih untuk diceritakan. Dan di sisi lain, kamu nggak pengen itu mempengaruhi aku. Mempengaruhi komunikasiku dengan keluargaku.

Aku tahu bahwa setiap kali kita berjauhan, kamu ingin rasanya cepat-cepat pagi agar bisa dapat kabarku sudah pulang, sudah berada dalam jangkauan pelukanmu. Kamu bukan orang yang rajin memberikan teks atau telepon saat berjauhan. Aku di sini pun selalu menghitung waktu yang tersisa saat akhir minggu, untuk kembali menginjakkan kaki di kota yang sama denganmu.

Meninggalkanmu saat akhir minggu, tak sepenuhnya mauku. Kamu tahu itu dengan benar. Aku selalu berkelit untuk pulang atas nama menghabiskan akhir minggu denganmu. Rasanya 24 jam belum cukup, rasanya weekdays belum cukup untuk bersenang-senang. Selalu ada adiksi untuk menemuimu setiap hari. Satu hari tanpa bersamamu, tentu saja mengacaukan pola yang aku harapkan.

Sebentar lagi sayang. Bersabarlah. Maka tak akan lagi ada perpisahan di penghujung hari atau minggu. Sebentar lagi kamu bisa memilikiku sepuasnya. Kita pulang ke rumah yang sama, menyenderkan punggung pada alas yang sama. Sebentar lagi, sayang.

Atas semua kesabaranmu, usahanmu untuk menahan semua rasa sedih agar tak diluapkan kepadaku, usahamu untuk meyakinkanku bahwa kamu bisa pergi ke luar tanpa aku sesekali di weekend, usahamu untuk setidaknya tak mengeluh, aku ingin mengucapkan terima kasih. Pada harinya, akan aku bayar dengan izin untuk memilikiku seluruhnya.

Sunday, 7 December 2014

Cowok Ganteng Biasanya....

Sudah sejak lama, aku kepincut sama pesona Brendon Urie. Dia ini pentolannya Panic! At The Disco dan idaman para cewek di dunia karena penampilannya yang seksi banget. Panic! At The Disco pernah ngeluarin lagu yang Brendon menyanyikan lirik ini:

I've got more wit, a better kiss, a hotter touch, a better fuck
Than any boy you'll ever meet, sweetie you had me
Girl I was it, look past the sweat, a better love deserving of
Exchanging body heat in the passenger seat?
No, no, no, you know it will always just be me

Lirik ini cuma diulang dua kali dalam lagu, tapi gara-gara ini, semua penggemar cewek Panic! At The Disco setuju kalo Brendon musti dikasih satu lagu yang mana liriknya fuck fuck fuck doang, kami jamin pasti laku berat :))

Buat aku personally, kenapa kesengsem sama Brendon Urie, karena pesonanya yang seksi, rahang tegas, lengan besar yang kayaknya enak kalo buat meluk, tapi yang terpenting adalah doi multitalenta dan setia sama istri. Sebutin aja alat musik yang bisa dia mainin, dari gitar, drum, bass, piano, serta sampling-sampling efek yang buat lagu Panic! At The Disco makin ajeb-ajeb. Dan ditambah, bisa nyanyi pula. Beuh.

Tapi ya itu, yang paling menyentuh aku adalah, doi sayang banget sama istrinya. Waktu pacaran pun, dia blak-blakkan banget kalo dia sayang banget sama Sarah. Udah banyak lagu yang dia bikinin buat Sarah, dan dibawain dalam materi album Pani! At The Disco. Walau tampangnya seksi dan nakal gitu, ternyata Brendon cinta mati sama istrinya, dan nggak masalah kehilangan fans gara-gara dia udah "ada yang punya".


Dia dulu sama kayak cowok bandel lainnya, ya gonta ganti cewek, punya mantan sederet, dan kenakalan lain yang bisa dilakukan oleh frontman ganteng sebuah band. Tapi, begitu punya Sarah, beuh langsung tobat Brendon. Dia pernah bilang kalo dia bersyukur banget punya Sarah, punya istri yang mau nerima masa lalunya, dan nerima dia apa adanya. Dia yang sekarang, bukanlah apa-apa kalo nggak dibantu dukungan dari Sarah.

I always want someone like Brendon Urie, until I meet you personally. I never know you are really alike to him until I have you.

Jelas kamu lebih berharga daripada Brendon Urie karena kamu lebih nyata. Tapi sosok dia mengingatkan aku sama kamu. Kamu dari dulu dikenal sebagai anak band, punya rahang tegas, lengan besar yang memang enak banget kalo buat meluk, dan multitalenta. Kamu bisa pegang banyak alat musik, dan nggak cuma bisa doang, tapi berusaha untuk mempelajari semua tekniknya biar jago dan kamu mainnya puas. How passionate. 

Saat kamu udah asik ngobrol soal musik, atau pas aku diizinkan kamu untuk ngeliat semua aksi kamu mainin lagu, aku tuh kayak ditarik dalam duniamu. You look so different, kayak mengeluarkan aura tersendiri, and man, you really damn good at it. Sorot mata kamu tajam, jarimu tahu apa yang sedang mereka lakukan untuk menghasilkan nada yang akurat, dan yang paling seneng kalo kamu udah pecicilan mainin alat musik. Rasanya semua gelembung antusiasme, melebur di situ. You know, its an honour to have a permission watching you playing music instruments.

Dan nggak banyak cowok yang mau ngegamblangin musik beserta tekniknya ke seorang cewek yang nggak pernah nyentuh alat musik. Rasanya lihat kesabaran kamu menjelaskan hal-hal yang sukar dipahami, buat aku makin paham pelan-pelan sama duniamu. Walau kadang suka lupa nama band atau definisi teknik, tapi aku cuma pengen kamu tahu kalo aku nggak sekedar mendengarkan penjelasan kamu aja, tapi juga mencoba memahami. It's new knowledge buat aku, apalagi disampaikan sama orang yang sepassionate itu sama musik.

You want to make me know your world. It means so precious to me. I have a permit to enter your world, deeper.

Kamu dulu bandel, aku tahu. Kamu dulu punya banyak mantan, aku tahu. Tapi, yang bikin aku senang adalah, saat kamu sama aku, kamu nggak lagi bandel. Kamu mau menghargai aku untuk nggak "sebebas dulu" bergaul sama cewek lain. You show them that you have me, and that's end of sentences. You know, for us, girls, there's no more cute boys than the one who proud having his girl. And you just did it.

Cowok ganteng biasanya tetep jadi player walau punya pacar atau istri. Tapi kamu nggak. Brendon Urie juga nggak. And I give my salute to others boys who do the same.