Saturday, 14 March 2015

Right On The Track

Belakangan ini adalah salah satu dari masa-masa berat yang aku hadapi. Entah kenapa, timelinenya juga sama dengan tahun lalu. Februari-Maret menjadi bulan di mana aku menjadi depresi dan memberesi mentalku.

Aku biasanya menyembunyikan diri ketika sedang berada dalam kondisi ini. Pertama untuk menjernihkan pikiran, kedua agar tak ada yang melihat aku sedih atau menangis, dan ketiga agar tak ada yang bisa menyakitiku. Tapi tahun ini rasanya aku harus keluar dari cangkang. Dan kamu meyakinkan aku bahwa aku bisa berbicara apa saja kepadamu, membocorkan semuanya, memberitahu apa yang sebenarnya ku rasakan, dan dengan fakta kamu nggak mungkin menyakiti aku.

Aku membangun tembok tinggi-tinggi agar tak ada yang bisa melewatinya dan sengaja melemparkan kaca beling. Aku membangun sekat yang berlapis agar orang yang benar-benar peduli padaku saja yang bisa menembusnya. Tapi kamu selalu tanya, buat apa. Buat apa aku capek-capek berusaha membangun sekat dan dinding, kamu toh bukan salah satu orang yang mau sengaja menyakitiku. Setidaknya aku tahu bahwa itu kebenaran dari kata-katamu yang belakangan ini sudah kamu atur sedemikian rupa untuk nggak mengusikku. Untuk nggak mengusik naga yang kehilangan kumisnya.

Aku bilang "nggak enak rasanya ditusuk", kamu bilang "nggak akan terasa kalo kulitnya udah keras". Well, sekali lagi kamu benar. Aku kan nggak bisa mengatur apa yang ingin orang katakan atau lakukan kepadaku, tapi aku bisa melatih agar "kulit"ku keras sehingga nggak terlalu memasukkan kaca beling itu ke dalam organ lembekku.

Dan di saat sedih, panik, serta cemas di beberapa hari ini, aku sayup-sayup bisa mendengarmu berkata "at least kamu harus tetep right on the track". Saat aku sedang ingin mencakar pipiku, at least pekerjaanku beres. Saat aku ingin menangis selama dua jam, at least kamar sudah dipel. At least aku masih right on the track. Itu yang terus menerus aku ulang. Aku nggak boleh buta karena cemas, panik, sedih, atau stress. Sebenarnya yang memicu mereka pun hanya ilusi. Jadi aku sebaiknya nggak mengorbankan hal-hal penting lainnya.

Saat ini mungkin aku bukanlah The Duke yang ditulis John Green di novel Let It Snow. Aku bukan tipe cewek percaya diri yang selalu punya rencana di tiap kesulitan dan kebuntuan. Itu peranmu. Tapi at least aku nggak mau jadi cewek yang tengelam dalam sedihnya sehingga menciptakan masalah baru. Seperti yang kamu selalu bilang, kejernihan berpikir saat dikuasai emosi dan panik, bisa dilatih. Dan aku sedang melatihnya sedikit demi sedikit.

No comments:

Post a Comment