So, today we watched Lucy.
And it’s just so open my mind in a way I find interesting…
Di sepanjang film, aku nggak berhenti merinding dan mengamini quotes yang keluar dari filmnya, kebanyakan karena mengingatkan aku sama dia. Pemikirian yang keluar soal immortality, membagikan pengetahuan kita ke orang lain, dan kekompleksan yang terjadi dalam konsep hidup, ah it's just so him. Dan begitu filmnya selesai, dia langsung bilang "This is the best sci-fi movie ever". He said it right after the scene was ended. Kayak, saking bagusnya itu film, dia sampai nggak bisa menahan komentar itu. So I know it was a god-damn good movie.
While I was a bit shaken caused by the movie, dia berjalan dengan coolnya dan masang tampang "I know it. I know it". And the conversation started.
Dia cerita kalo apa yang ada di film Lucy tadi adalah apa yang sering dia pikirkan dan renungkan selama ini. Dan beberapa pertanyaan hidupnya bisa dijawab oleh film itu. Well, aku tahu sih dia orangnya memang kompleks dan pemikir. Tapi agak tercengang dan melongo aja kalau yang ternyata dia pikirkan ya sebesar itu skalanya. Kayak, aku masih berkutat di purpose of life dalam skala menengah, dia udah dalam skala alam semesta. And that movie describes him well.
Selama ini, setiap dia nanya "Apa sih tujuan hidupmu?", dan aku selalu menjawab "aku pengen jadi ini, itu, mau buat ini, itu" dan aku bisa tahu dari raut wajahnya yang nggak pernah puas dengan jawabannya. I mean, aku jawab dalam skala teknis, sedangkan dia minta jawaban konsep. I never knew about this before today. Sebenarnya yang dia minta adalah jawaban filosofis dan lebih concept-thingy dari sekedar mau mencapai apa dalam hidup ini. Dan itu sama sekali belum bisa aku jawab, sampai akhirnya kami menonton Lucy.
Aku selalu tahu kalo menjadi influencer ke orang-orang adalah his highest demand, sampai-sampai dia bisa jadi sangat gusar kalau dirasa belum bisa mengukur how he could influence people. Serius, selama ini aku masih bingung kenapa dia bisa sampai segusar itu. But after I watched that movie, aku jadi tahu kalo "menginspirasi orang" bukan hanya apa yang paling dia inginkan, tapi bahkan sel-sel dalam tubuhnya pun menuntut demikian. Seperti, dia memang diciptakan untuk menginspirasi orang, dan it is his duty on the earth and that is his way to reach immortality. Yang mana, jika ia tak bisa menginspirasi orang, he is not exist.
Saat pertama kali ketemu, aku memang udah tahu there is something authentic in him. Tapi sekarang, dapat aku definisikan dengan, mungkin saja dia menggunakan otaknya dengan porsi lebih banyak daripada orang biasa, lebih banyak daripada aku juga. Makanya itu, dia punya kind of sense, yang memang dia latih untuk jadi peka. Dia bisa tahu mana orang yang berpotensial apa nggak, mana orang baik-baik apa nggak, mana orang baru, mana orang yang mengancam, dan lain-lain. Udah lama dia mencoba menjelaskan bagaimana cara dia memilih itu, tapi tetep saja aku nggak bisa mengerti 100% darimana dia bisa tahu sebanyak itu. Pengalaman aja nggak akan bawa dampak segitunya ku rasa. Yah, sampai hari ini. Aku jadi tahu dia seanomali apa dan sepintar apa. And for some reasons, emang kalo dia bilang si A baik, si B punya maksud tertentu, dan sebagainya. I better believe in him, karena penjelasan logisnya, bisa aja di luar limit aku. It's kind of skill he is capable of.
Mengenai dengan pembinasaan orang bodoh, aku tahu dia selalu punya cara radikal, dan tadinya nggak bisa memahami alasan mengapa caranya sangat radikal. Tapi ya, hari ini aku kayak bisa memahami sedikit lebih banyak lagi tentang dia. Dan tahu kenapa orang bodoh bisa sangat mengancam keberadaan peradaban yang maju. Bahwa orang bodoh yang tak mau belajar dan menghasut mereka yang pintar untuk jadi bodoh sepertinya, adalah segagal-gagalnya manusia. Dan sekarang, cara radikal dia jadi terdengar lebih logis di kupingku. I know he always has a reason behind every plan and action.
And about Freemason things, jujur aja aku lega dia masih berbeda dengan mereka, karena masih punya kesadaran akan Tuhan, akan Penciptanya. Aku pikir, memang itu lah yang akan memberikan batasan padanya untuk tetap down to earth dan nggak serta merta memuja otak manusia. I mean, all scientist do that, I don't wanna him to be in that way too. Dia memang pintar, bisa berakselerasi dengan cara di luar perkiraanku, dia bisa lebih dari ini, tapi tetap menapak pada tanah.
Kalau kemarin dia mengklaim dirinya indigo, rasanya aku lebih setuju kalau dia memang menggunakan porsi otaknya lebih banyak dibandingkan manusia biasa. Jadi super kompleks dan fragile. Emosinya berubah-ubah seperti air, dan memerlakukannya tak pernah bisa lancar semudah menghapal pelajaran biologi. Dia nggak bisa dihapal karena dia selalu punya banyak variabel yang selalu berubah-ubah tergantung kondisi dan lingkungan. And this is why keeping his mood is something challenging. Because you have no idea what's happen in the future 5 minutes.
But he developed much more within a year. Moodnya nggak serentan dulu, dan sedikit demi sedikit, dia mulai lembut. Dan di beberapa momen, aku selalu tahu saat-saat dia menahan diri untuk explode, dan alih-alih berbicara to the-point, dia menghaluskan intonasi suaranya. Yes, I know he's trying and it's more than enough. Tapi, ngomong-ngomong soal berbicara to-the point, sepertinya memang jangan hilang sih. Ya, memang nggak bisa hilang juga, karena itu udah jadi karakter dia. Tapi, memang bermanfaat sekali dia bisa berbicara lugas, di saat aku selalu memilih kata-kata lain untuk diutarakan agar tak terdengar kasar :P
In the end, sejak hari ini aku nggak bisa lagi memandang dia dengan cara yang sama seperti dulu. But, in a good way. Makin tahu dia, makin eksplor dia, aku makin tahu kalo he is the most authentic person I never want to let go. Kayak, bersyukur tiap hari punya sesuatu dari dia yang bisa dieksplor dan bikin dinamika hubungan jadi nggak gitu-gitu aja.
And downloading Lucy, is the right way after this contemplation. :)