Ketika sedih menyeruak, air mata menggenang hampir tumpah, hati kacau balau dibutakan oleh kalimat tuduhan dan makian, aku hanya mengulang kata-kata ini:
Stay on the track, Din.
It could be worse. It could be worse.
Don't be emotional.
Jangan larut sama emosi yang hanya ilusi
Fokus sama to-do-list
Gue harus melakukan step apa selanjutnya
Kuasai diri lo sendiri
Lihat masalahnya dari outside. Jangan buat diri lo terlarut
Dan kadang-kadang aku dapat mendengar kamu sendiri yang mengucapkannya dengan nada yakin namun penuh kasih sayang. Aku nggak tahu dari mana kamu mendapatkan nada seperti itu. Tapi yang aku tahu, caramu mengatakannya membuatku tenang dan yakin. At least aku nggak akan melenceng karena yakin sama kamu.
Monday, 16 March 2015
Saturday, 14 March 2015
Right On The Track
Belakangan ini adalah salah satu dari masa-masa berat yang aku hadapi. Entah kenapa, timelinenya juga sama dengan tahun lalu. Februari-Maret menjadi bulan di mana aku menjadi depresi dan memberesi mentalku.
Aku biasanya menyembunyikan diri ketika sedang berada dalam kondisi ini. Pertama untuk menjernihkan pikiran, kedua agar tak ada yang melihat aku sedih atau menangis, dan ketiga agar tak ada yang bisa menyakitiku. Tapi tahun ini rasanya aku harus keluar dari cangkang. Dan kamu meyakinkan aku bahwa aku bisa berbicara apa saja kepadamu, membocorkan semuanya, memberitahu apa yang sebenarnya ku rasakan, dan dengan fakta kamu nggak mungkin menyakiti aku.
Aku membangun tembok tinggi-tinggi agar tak ada yang bisa melewatinya dan sengaja melemparkan kaca beling. Aku membangun sekat yang berlapis agar orang yang benar-benar peduli padaku saja yang bisa menembusnya. Tapi kamu selalu tanya, buat apa. Buat apa aku capek-capek berusaha membangun sekat dan dinding, kamu toh bukan salah satu orang yang mau sengaja menyakitiku. Setidaknya aku tahu bahwa itu kebenaran dari kata-katamu yang belakangan ini sudah kamu atur sedemikian rupa untuk nggak mengusikku. Untuk nggak mengusik naga yang kehilangan kumisnya.
Aku bilang "nggak enak rasanya ditusuk", kamu bilang "nggak akan terasa kalo kulitnya udah keras". Well, sekali lagi kamu benar. Aku kan nggak bisa mengatur apa yang ingin orang katakan atau lakukan kepadaku, tapi aku bisa melatih agar "kulit"ku keras sehingga nggak terlalu memasukkan kaca beling itu ke dalam organ lembekku.
Dan di saat sedih, panik, serta cemas di beberapa hari ini, aku sayup-sayup bisa mendengarmu berkata "at least kamu harus tetep right on the track". Saat aku sedang ingin mencakar pipiku, at least pekerjaanku beres. Saat aku ingin menangis selama dua jam, at least kamar sudah dipel. At least aku masih right on the track. Itu yang terus menerus aku ulang. Aku nggak boleh buta karena cemas, panik, sedih, atau stress. Sebenarnya yang memicu mereka pun hanya ilusi. Jadi aku sebaiknya nggak mengorbankan hal-hal penting lainnya.
Saat ini mungkin aku bukanlah The Duke yang ditulis John Green di novel Let It Snow. Aku bukan tipe cewek percaya diri yang selalu punya rencana di tiap kesulitan dan kebuntuan. Itu peranmu. Tapi at least aku nggak mau jadi cewek yang tengelam dalam sedihnya sehingga menciptakan masalah baru. Seperti yang kamu selalu bilang, kejernihan berpikir saat dikuasai emosi dan panik, bisa dilatih. Dan aku sedang melatihnya sedikit demi sedikit.
Aku biasanya menyembunyikan diri ketika sedang berada dalam kondisi ini. Pertama untuk menjernihkan pikiran, kedua agar tak ada yang melihat aku sedih atau menangis, dan ketiga agar tak ada yang bisa menyakitiku. Tapi tahun ini rasanya aku harus keluar dari cangkang. Dan kamu meyakinkan aku bahwa aku bisa berbicara apa saja kepadamu, membocorkan semuanya, memberitahu apa yang sebenarnya ku rasakan, dan dengan fakta kamu nggak mungkin menyakiti aku.
Aku membangun tembok tinggi-tinggi agar tak ada yang bisa melewatinya dan sengaja melemparkan kaca beling. Aku membangun sekat yang berlapis agar orang yang benar-benar peduli padaku saja yang bisa menembusnya. Tapi kamu selalu tanya, buat apa. Buat apa aku capek-capek berusaha membangun sekat dan dinding, kamu toh bukan salah satu orang yang mau sengaja menyakitiku. Setidaknya aku tahu bahwa itu kebenaran dari kata-katamu yang belakangan ini sudah kamu atur sedemikian rupa untuk nggak mengusikku. Untuk nggak mengusik naga yang kehilangan kumisnya.
Aku bilang "nggak enak rasanya ditusuk", kamu bilang "nggak akan terasa kalo kulitnya udah keras". Well, sekali lagi kamu benar. Aku kan nggak bisa mengatur apa yang ingin orang katakan atau lakukan kepadaku, tapi aku bisa melatih agar "kulit"ku keras sehingga nggak terlalu memasukkan kaca beling itu ke dalam organ lembekku.
Dan di saat sedih, panik, serta cemas di beberapa hari ini, aku sayup-sayup bisa mendengarmu berkata "at least kamu harus tetep right on the track". Saat aku sedang ingin mencakar pipiku, at least pekerjaanku beres. Saat aku ingin menangis selama dua jam, at least kamar sudah dipel. At least aku masih right on the track. Itu yang terus menerus aku ulang. Aku nggak boleh buta karena cemas, panik, sedih, atau stress. Sebenarnya yang memicu mereka pun hanya ilusi. Jadi aku sebaiknya nggak mengorbankan hal-hal penting lainnya.
Saat ini mungkin aku bukanlah The Duke yang ditulis John Green di novel Let It Snow. Aku bukan tipe cewek percaya diri yang selalu punya rencana di tiap kesulitan dan kebuntuan. Itu peranmu. Tapi at least aku nggak mau jadi cewek yang tengelam dalam sedihnya sehingga menciptakan masalah baru. Seperti yang kamu selalu bilang, kejernihan berpikir saat dikuasai emosi dan panik, bisa dilatih. Dan aku sedang melatihnya sedikit demi sedikit.
Sunday, 8 March 2015
Menjadi Manusia Dua Puluh Empat Tahun
Aku bermasalah dengan orang tua? Bukan cerita baru. Sejak SMP pun, aku memang nggak pernah bisa benar-benar akur dan terbuka sama mereka karena satu dan lain hal. See, keluarga yang paling adem ayem sekali pun punya masalah.
Aku ingat rasanya menjadi anak yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Perasaan untuk melancong, kabur, memberontak, dan pikiran-pikiran idealis masih dirawat. Aku banyak bertengkar dengan mereka. Statusku pun pada saat itu, masih pacaran sama cowok yang usianya sepuluh tahun di atas aku. Sekarang usiaku sudar dua puluh empat tahun dan tadi siang aku baru saja berantem sama orang tuaku. Rasanya seperti kembali ke masa-masa delapan tahun lalu.
Tapi dengan situasi yag berbeda. Dulu, aku merasa seperti diprovokasi oleh mantanku. Saat aku bilang aku kesal dengan orang tuaku, alih-alih meredakan dan meluruskan persepsi, ia selalu menambahkan kalimat yang membuat aku makin sebal dengan orang tuaku. Sekarang aku bisa melihat bahwa dia memang nggak pernah respek sama orang tuaku. Mungkin memang benar orang tuaku nggak sempurna, tapi memanas-manasi kan bukan hal yang baik.
Ayahku memang keras, tapi ia bijaksana. Ibuku memang punya masalah dengan kata-kata yang dilontarkannya saat ia marah, tapi at least sebenarnya dia baik. Aku tidak menyukai sisi-sisi buruk dari keda orang tuaku, tapi aku tahu aku tetap anak mereka. Dan setidaknya aku harus tahan dengan mereka sampai aku menikah nanti.
Tadi siang sehabis Ibuku puas melontarkan kata-kata jahat, aku menelepon kamu dan yah kamu tetap tenang. Aku bilang aku ingin kabur, sambil terisak dan kesulitan mengambil napas. Pada kesempatan pertama, aku ingin sekali kamu bilang "Ayo, nggak apa-apa kabur aja. Aku ada di sini, dan kamu setidaknya bisa mendapakan tempat tenang untuk berpikir dan membereskan semuanya". Tapi makin panjang aku menjelaskan aku pengen kabur, aku merasa makin mirip dengan Ibumu. Yang kamu bilang adalah tindakan yang konyol dan jelas-jelas tidak menyelesaikan masalah.
Ya, kabur adalah ide yang konyol. Aku mingkin hanya terprovokasi dengan Margo Roth Spiegelman. Tapi tentu saja aku bukan Margo Roth Spiegelman, dan orang tuaku bukan orang tua Margo Roth Spiegelman. Jadi tampaknya aku sama-sama setuju denganmu bahwa kabur adalah tindakan yang konyol, oh dan kekanak-kanakkan. For God's sake, aku udah dua puluh empat tahun. Geez.
Lalu kamu memberikan saran yang sejujurnya tak bisa aku setujui sepenuhnya, karena aku memang masih sebal ke orang tuaku. Tapi kamu memang benar, kalo mau masa depan masih tersegel rapi, aku harus menyayangi orang tuaku dan mengikuti cara main mereka dulu sambil berkelit di sela-sela kesempatan. Karena kalau aku mengacau sekarang, bisa saja hal-hal yang berhubungan dengan aku dan kamu ke depannya nggak mulus. Saran yang benar memang rasanya pahit. Tapi rasanya lebih baik daripada harus memberi makan ego terus-terusan.
Setelah percakapan 39 menit denganmu, aku masih merasa sedih tapi setidaknya lebih waras daripada sebelumnya. Aku tidur banyak-banyak, layaknya orang yang memang merasa sedih, dan bermimpi tentang aku dan kamu kabur dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi setelahnya aku dibangunkan oleh teleponmu, dan seperti ditepuk halus. Aku kembali ke realita yang mana harus aku jalani.
Terima kasih sayang sudah bersedia sabar. Aku masih butuh kamu di sini.
Aku ingat rasanya menjadi anak yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Perasaan untuk melancong, kabur, memberontak, dan pikiran-pikiran idealis masih dirawat. Aku banyak bertengkar dengan mereka. Statusku pun pada saat itu, masih pacaran sama cowok yang usianya sepuluh tahun di atas aku. Sekarang usiaku sudar dua puluh empat tahun dan tadi siang aku baru saja berantem sama orang tuaku. Rasanya seperti kembali ke masa-masa delapan tahun lalu.
Tapi dengan situasi yag berbeda. Dulu, aku merasa seperti diprovokasi oleh mantanku. Saat aku bilang aku kesal dengan orang tuaku, alih-alih meredakan dan meluruskan persepsi, ia selalu menambahkan kalimat yang membuat aku makin sebal dengan orang tuaku. Sekarang aku bisa melihat bahwa dia memang nggak pernah respek sama orang tuaku. Mungkin memang benar orang tuaku nggak sempurna, tapi memanas-manasi kan bukan hal yang baik.
Ayahku memang keras, tapi ia bijaksana. Ibuku memang punya masalah dengan kata-kata yang dilontarkannya saat ia marah, tapi at least sebenarnya dia baik. Aku tidak menyukai sisi-sisi buruk dari keda orang tuaku, tapi aku tahu aku tetap anak mereka. Dan setidaknya aku harus tahan dengan mereka sampai aku menikah nanti.
Tadi siang sehabis Ibuku puas melontarkan kata-kata jahat, aku menelepon kamu dan yah kamu tetap tenang. Aku bilang aku ingin kabur, sambil terisak dan kesulitan mengambil napas. Pada kesempatan pertama, aku ingin sekali kamu bilang "Ayo, nggak apa-apa kabur aja. Aku ada di sini, dan kamu setidaknya bisa mendapakan tempat tenang untuk berpikir dan membereskan semuanya". Tapi makin panjang aku menjelaskan aku pengen kabur, aku merasa makin mirip dengan Ibumu. Yang kamu bilang adalah tindakan yang konyol dan jelas-jelas tidak menyelesaikan masalah.
Ya, kabur adalah ide yang konyol. Aku mingkin hanya terprovokasi dengan Margo Roth Spiegelman. Tapi tentu saja aku bukan Margo Roth Spiegelman, dan orang tuaku bukan orang tua Margo Roth Spiegelman. Jadi tampaknya aku sama-sama setuju denganmu bahwa kabur adalah tindakan yang konyol, oh dan kekanak-kanakkan. For God's sake, aku udah dua puluh empat tahun. Geez.
Lalu kamu memberikan saran yang sejujurnya tak bisa aku setujui sepenuhnya, karena aku memang masih sebal ke orang tuaku. Tapi kamu memang benar, kalo mau masa depan masih tersegel rapi, aku harus menyayangi orang tuaku dan mengikuti cara main mereka dulu sambil berkelit di sela-sela kesempatan. Karena kalau aku mengacau sekarang, bisa saja hal-hal yang berhubungan dengan aku dan kamu ke depannya nggak mulus. Saran yang benar memang rasanya pahit. Tapi rasanya lebih baik daripada harus memberi makan ego terus-terusan.
Setelah percakapan 39 menit denganmu, aku masih merasa sedih tapi setidaknya lebih waras daripada sebelumnya. Aku tidur banyak-banyak, layaknya orang yang memang merasa sedih, dan bermimpi tentang aku dan kamu kabur dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi setelahnya aku dibangunkan oleh teleponmu, dan seperti ditepuk halus. Aku kembali ke realita yang mana harus aku jalani.
Terima kasih sayang sudah bersedia sabar. Aku masih butuh kamu di sini.
Subscribe to:
Comments (Atom)