Hei kamu, aku tetap diam walau kamu menyodorkan pertanyaan (atau mungkin lebih pantes disebut pernyataan) yang sama karena butuh waktu untuk tahu apa perasaan ini dan bisa menjelaskan dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih jelas...
I don't want any separation, dear. Biggest reason adalah karena aku sayang sama kamu. Yup, klise dan cheesy banget. Namanya orang sayang, ya rasanya nggak mau pisah seburuk apa pun kondisinya. Kenapa? Karena masih sayang. Muter-muter di situ aja kan. Entah, nggak bisa dijelasin.
Kalo sayang, kenapa aku berulah? Ya.... karena that's how I am and that's how you are. Kamu bilang dari awal, kita udah beda. Tapi yang namanya hubungan, pasti ada berantem. Kadang sering, kadang banyak mesranya. Tapi aku cuma jadi aku yang sama kayak pertama kali kamu kenal, yang. Kalau berbeda, itu karena situasinya yang berbeda. Tapi aku nggak berubah.
Kalo dulu, aku bisa bebas pulang malem dan kamu ngebolehin ke mana-mana, ya karena aku masih ngekos. Aku ya juga hepi-hepi aja karena nggak ada masalah. Tapi sekarang kan situasinya beda, aku udah di rumah dan menempuh perjalanan setiap hari. Mulai ada aturan ini itu. See, apa yang beda? Situasinya. Aku tetep kayak gini dari dulu yang.
Makanya aku sedih kamu bilang, aku berubah. Feels like I fake personality since three years ago. Which I wasn't.
Alasan kedua kenapa aku nggak mau quit, is way more deep reason.
I feel like we ARE different, but we meant to be complete each other
Maybe we ARE different, but I believe we meant for something bigger
Aku yang keras kepala tapi bisa "menjual" dikombinasiin sama kamu yang introvert dan teliti dan well-organized, we shared so many common topics, aku bisa ngomong blak-blakan soal universe dan konsep Tuhan yang tabu, you making me more confident day by day, we explored and experienced so many things together. Just imagine what parents we made in the future. What generations we created later. Well, I still fight for us.
Yes, there will be big price in our relationship karena personaliti kita yang beda, itu lah kenapa kita sering berantem. Tapi aku suka bareng kamu, tahan bareng kamu, dan bahagia sama kamu.
So please, stay with me. I beg you....
--
About our problem, well maybe it's just my own problem.
Aku putus sama R*o*y karena hidup aku nggak bisa didikte sama dia. Aku putus sama R*i*a*n karena menurut dia aku terlalu independent. Aku putus sama A*t*r*a karena nggak suka diatur-atur bangun pagi. Hubunganku nggak baik sama orangtua karena aku kepengen lebih bebas. See, the same line every relationship I made. So maybe it's not I don't trust you, but it's me being stubborn. It's my incapability to become submissive (read: to surrender my life).
PS: Aku bintangin namanya biar nggak masuh search keyword
Kenapa? Menurut aku bukan karena aku nggak percaya sama orang lain. Tapi lebih ke, aku percaya aku selalu punya suara di setiap hubungan yang aku jalani. Suara ini akhirnya disalurkan dengan ngebantah, argue, ngedebat keputusan semua orang, dan keras kepala. Itu sih yang dominan. So please don't see me as if I don't trust you. It's me being sucks.
Plus, jalan berpikir aku yang nggak kamu terima. Terlalu logis, terlalu struktural. Ya gimana yang, ini adalah jalan berpikir yang aku latih bertahun-tahun di science way. Aku bukan menghapal kamu, aku cuma menerapkan jalan berpikir yang sama ke semua orang dan hal. Semuanya yang, ga cuma kamu. This is what I know for years, dan butuh usaha ekstra dan lama juga buat mengubahnya.
--
So please stay stay stay. I want you in my life. Please....