Aku bermasalah dengan orang tua? Bukan cerita baru. Sejak SMP pun, aku memang nggak pernah bisa benar-benar akur dan terbuka sama mereka karena satu dan lain hal. See, keluarga yang paling adem ayem sekali pun punya masalah.
Aku ingat rasanya menjadi anak yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Perasaan untuk melancong, kabur, memberontak, dan pikiran-pikiran idealis masih dirawat. Aku banyak bertengkar dengan mereka. Statusku pun pada saat itu, masih pacaran sama cowok yang usianya sepuluh tahun di atas aku. Sekarang usiaku sudar dua puluh empat tahun dan tadi siang aku baru saja berantem sama orang tuaku. Rasanya seperti kembali ke masa-masa delapan tahun lalu.
Tapi dengan situasi yag berbeda. Dulu, aku merasa seperti diprovokasi oleh mantanku. Saat aku bilang aku kesal dengan orang tuaku, alih-alih meredakan dan meluruskan persepsi, ia selalu menambahkan kalimat yang membuat aku makin sebal dengan orang tuaku. Sekarang aku bisa melihat bahwa dia memang nggak pernah respek sama orang tuaku. Mungkin memang benar orang tuaku nggak sempurna, tapi memanas-manasi kan bukan hal yang baik.
Ayahku memang keras, tapi ia bijaksana. Ibuku memang punya masalah dengan kata-kata yang dilontarkannya saat ia marah, tapi at least sebenarnya dia baik. Aku tidak menyukai sisi-sisi buruk dari keda orang tuaku, tapi aku tahu aku tetap anak mereka. Dan setidaknya aku harus tahan dengan mereka sampai aku menikah nanti.
Tadi siang sehabis Ibuku puas melontarkan kata-kata jahat, aku menelepon kamu dan yah kamu tetap tenang. Aku bilang aku ingin kabur, sambil terisak dan kesulitan mengambil napas. Pada kesempatan pertama, aku ingin sekali kamu bilang "Ayo, nggak apa-apa kabur aja. Aku ada di sini, dan kamu setidaknya bisa mendapakan tempat tenang untuk berpikir dan membereskan semuanya". Tapi makin panjang aku menjelaskan aku pengen kabur, aku merasa makin mirip dengan Ibumu. Yang kamu bilang adalah tindakan yang konyol dan jelas-jelas tidak menyelesaikan masalah.
Ya, kabur adalah ide yang konyol. Aku mingkin hanya terprovokasi dengan Margo Roth Spiegelman. Tapi tentu saja aku bukan Margo Roth Spiegelman, dan orang tuaku bukan orang tua Margo Roth Spiegelman. Jadi tampaknya aku sama-sama setuju denganmu bahwa kabur adalah tindakan yang konyol, oh dan kekanak-kanakkan. For God's sake, aku udah dua puluh empat tahun. Geez.
Lalu kamu memberikan saran yang sejujurnya tak bisa aku setujui sepenuhnya, karena aku memang masih sebal ke orang tuaku. Tapi kamu memang benar, kalo mau masa depan masih tersegel rapi, aku harus menyayangi orang tuaku dan mengikuti cara main mereka dulu sambil berkelit di sela-sela kesempatan. Karena kalau aku mengacau sekarang, bisa saja hal-hal yang berhubungan dengan aku dan kamu ke depannya nggak mulus. Saran yang benar memang rasanya pahit. Tapi rasanya lebih baik daripada harus memberi makan ego terus-terusan.
Setelah percakapan 39 menit denganmu, aku masih merasa sedih tapi setidaknya lebih waras daripada sebelumnya. Aku tidur banyak-banyak, layaknya orang yang memang merasa sedih, dan bermimpi tentang aku dan kamu kabur dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi setelahnya aku dibangunkan oleh teleponmu, dan seperti ditepuk halus. Aku kembali ke realita yang mana harus aku jalani.
Terima kasih sayang sudah bersedia sabar. Aku masih butuh kamu di sini.
No comments:
Post a Comment