Wednesday, 10 June 2015

Heartless Bitch

It is happening again.
Seseorang mengganggap aku lebih mementingkan kerjaan daripada hubungan personal. Oh it's like dejavu to three years ago.

Jadi ada dua orang yang berbeda, pernah mengganggap aku mementingkan kerjaan daripada hubungan personal. Dua orang yang berbeda bilang aku nggak peka. Dan ya, mungkin aja label heartless udah ada di jidat aku dari dulu. Terpampang lebar-lebar dan nggak pernah ilang.

Mungkin bukan salah dua orang itu bilang aku terlalu mementingkan kerjaan. They can name it, kantor lah, kerjaan lah, deadline lah. Mungkin memang aku yang salah, selalu nggak tahu tempat dan prioritas. Terlalu patuh sama deadline sampe pacar sendiri aja ga diurusin. Yah kayak yang kamu bilang, ga peka.

Jujur rasanya sedih banget denger hal yang sama keluar dari ketikan kamu.Rasanya pengen motong diri sendiri sampe jadi potongan kecil, karena aku nggak layak untuk hidup. Siapa yang pantas hidup kalo ternyata tuh orang kerjanya cuma bisa bikin sedih orang di sekitarnya. Nggak berguna kan.

Dulu aku menyikapi hal ini dengan masa bodo dan nggak denger apa kata orang itu. Dan lanjut kerja untuk membiayai semuanya. Tapi berakhir dengan aku malah makin percaya bahwa aku heartless, tidak berguna, dan jadi orang paling jahat sedunia yang nggak pantes hidup. That is why I deserve physical pain, scars, and my own blood to redeem my sins.



No comments:

Post a Comment