Jadi tadi siang saat membereskan kosan kamu, aku nggak sengaja menemukan satu binder kecil di lemari kamu. Karena penasaran aku buka isinya. Ku pikir, aku udah tahu isinya atau at least udah pernah baca, tapi ternyata yang ini belum.
Isi beberapa halaman pertama binder itu adalah tentang mantan gebetan kamu. Kamu buat prosa lengkap dengan ilustrasinya. Kata-katamu mengalir indah, bahkan perasaan cemburuku sedikit reda oleh perasaan kagumku melihat diksi indah yang berhasil kamu tuangkan.
Dikristalkan menjadi sebuah prosa atau kata-kata pasti menakjubkan sekali rasanya. Seperti memori masa lalu yang dibekukan beserta basahnya perasaan yang ada saat itu. Sifatnya abadi dan spesial, tak peduli apa yang terjadi sesudahnya. Tak peduli apakah hubungan itu berjalan lama atau kandas di tengah jalan.
Mungkin memang benar kamu harus dibuat penasaran atau sedih agar keran kata di jemarimu bergerak menuangkan momen. Tapi tampaknya aku tak pernah berhasil membuat kamu penasaran selayaknya yang kamu inginkan. Hey, tapi bukankah penasaran itu sifatnya tak stabil, sedangkan keterbukaan lah yang membuat sebuah hubungan awet. Sedangkan membuatmu sedih, oh dear that is the last thing I want to happen. Karena aku percaya, aku memang diciptakan sebagai obat untukmu.
Tapi sudahlah, tak perlu kamu risaukan. Itu hanya intermezo sekilas. Karena saat ini yang terpenting bagiku adalah kamu sehat, bisa balik ketawa lagi, bisa main gitar dan bass lagi tanpa kesakitan, bisa makan enak lagi, dan mampu menginjakkan dua kaki lagi bersamaku.
No comments:
Post a Comment