Kadang aku nggak tahu bagaimana harus berdiri di tengah-tengah definisi "too emotional" sama "heartless". Rasanya susah harus memisahkan mana yang harus dibawa hati, atau mana yang harus disembuhkan oleh waktu.
Dulu aku nggak gampang bawa emosi ke apapun. Rasanya kalau ada masalah, cukup duduk beberapa menit, tunggu sampe lawan bicara omongannya waras dan nggak dikuasai emosi, baru nanti aku bicara dan masalah selesai. Dulu cara ini ampuh banget aku pakai sampai seseorang memberiku label "heartless". Orang yang nggak mau berempati, bersimpati, orang yang nggak bisa ngerti penderitaan orang lain dan terkesan sibuk dengan kebahagiaan diri sendiri.
Aku cukup terpukul dengan label itu. Karena label itu benar. Aku memasang sekat agar diriku sendiri minim dilukai orang. Dengan menyibukkan diri sendiri dengan apa yang ada di depan, dengan sederet kerjaan, dengan hal-hal yang aku sukai agar aku tetap waras. Ya, sebut aku heartless karena memang aku nggak pandai membujuk orang, melenakan orang dengan penderitaan mereka, aku nggak bisa menangis bersama penderitaan orang lain.
Tapi, makin ke sini aku berpikir, mungkin memang aku heartless. Aku nggak cukup berempati sama orang lain dan seharusnya itu nggak boleh diteruskan. Bahwa kalau ada masalah, ya harus diselesaikan saat itu juga, yang berarti aku juga masih bawa emosiku untuk menyelesaikannya. Ada kelebihan dan kekurangan, tapi aku berusaha jadi orang yang lebih mau mendengarkan dan mencoba mengerti penderitaan orang lain.
Sampai sekarang, rasanya aku kelewat batas. Bukan lagi berempati atau bersimpati, tapi malah aku ikut emosional setiap kali masalah datang. Apalagi jika itu adalah masalah kita. Aku nggak bisa tidur sebelum masalahnya selesai. Kadang masalahnya memang kamu yang kelewat rindu sampai akhirnya uring-uringan. Masalah sesederhana itu saja aku anggap adalah final problem yang harus diberikan perhatian secara seksama. Terus aku pasti memberikan penjelasan panjang lebar dan cemas sampai bantalku basah hingga sesengukan karena kamu nggak ngangkat telepon di satu jam pertama. Iya, kelewat batas kan aku.
Ditambah kecepatan akselerasi otakku yang ritmenya lambat. Nggak bisa memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan, spekulasi dan asumsi di sana sini, terlambat mengetahui aku kepengen apa sebenernya, mengurai inti masalah dan memberikan solusi yang nggak diproses seketika. Bikin masalahku ini tambah runyam. Mungkin aku harus sering-sering melatih akselerasi otak biar nggak bikin masalah tambah banyak.
Aku kepengen berdiri di tengah-tengah definisi "heartless" dan "too emotional". Aku ingin masih bisa merasakan sedih, tapi juga nggak terlarut di dalamnya. Aku pengen bisa bebas buka sekat tanpa harus takut terluka. Toh, sebenernya terluka atau nggak itu kan pilihan aku. Orang lain nggak bisa menyakiti aku tanpa aku izinkan. I have to be less vulnerable.
Sabar ya sayang. Aku mau ngelatihnya sedikit demi sedikit. Semoga jatah kesabaranmu belum habis sampai aku berhasil.