You know, something is more worthy if we know that it was impossible to reach.
Namanya manusia, ada aja hal yang bikin nggak sempurna. Aku yang pelupa, kamu yang susah punya teman atau sahabat. We meet in one package of personality. Lalu kemudian karena setiap hari bertemu, kepribadian aku dan kamu lama-lama melebur. Berubah ke arah lebih baik, atau berubah untuk menyeimbangkan masing-masing sisi.
Aku yang dulu sama sekali nggak bisa bangun pagi selama bertahun-tahun, kini bisa. Kamu yang parno banget sama duit, kini mulai perlahan melunak dan berkurang ketakutannya. Tapi, sifat pelupaku ini mungkin punya porsi yang besar untuk diperbaiki. Begitu juga dengan masalah percaya diri, yang merangkak naiknya seperti siput.
Aku tahu kamu aslinya bukan orang yang cukup sabar untuk menunggu orang berubah. Tapi, aku tahu kamu berusaha untuk sabar. Untuk tetap berbicara padaku pelan-pelan. Bahwa kebiasaan jelekku harus diubah biar nggak terulang berkali-kali. Bahwa aku harus teliti, peka, jeli, ingat hal-hal penting, dan nggak terus-terusan menyerang diri sendiri. Aku bisa lihat kalo kamu sabar banget ngadepin aku. Seorang kamu, mau nunggu dan mengalokasikan waktunya biar aku berubah, itu.... bikin aku seneng.
Kamu belajar bahwa aku nggak bisa dibentak, nggak bisa dikasih tekanan, mungkin memang sabar kuncinya. And I want you to know that I am trying to change. For me, for all the goodness that surely come if I changed. Aku cuma butuh kesabaran kamu dan pengertian kamu bahwa aku butuh waktu banyak untuk pegang helm, kunci, makanan, atau jaket sekaligus dan menjaga agar mereka nggak tertukar atau jatuh atau terkesan ribet. Aku butuh pengertian bahwa setiap kali beberes mau pulang, aku butuh waktu beberes lebih dulu dari kamu. Biar nggak asal masukin barang dan nggak nyenggol kabel. Juga aku butuh waktu ekstra untuk menyiapkan uang parkir biar dompet ga jatuh dari tas (atau barang lain yang jatuh dari tas) dalam waktu yang cepat tapi nggak terkesan ribet.
Dan aku senang, bahwa kamu tahu dan kamu memang selalu sabar nungguin aku. Bahkan sebelum tulisan ini dibuat. Bahkan sebelum aku minta untuk kedua kalinya.
Dan soal aku yang selalu memikirkan banyak hal yang nggak perlu, sampe mungkin akhirnya menyerang diriku sendiri. Aku angkat jempol buat kamu yang selalu dengan lembutnya pegang tangan aku, look me in the eyes, dan ngomong kata-kata lembut bahwa kamu nggak apa-apa, bahwa semuanya baik-baik aja. Bahwa harusnya masalah kecil nggak perlu dibesarkan. Bahwa aku nggak seburuk itu, bahwa aku nggak bikin kecewa siapa-siapa.
Kamu memang nggak obral kata "I love you" setiap hari.
Tapi, kamu menggantikannya dengan "Tenang aja sayang, nggak usah buru-buru", "aku tungguin kok, kamu selo aja", "hey hey, semuanya baik-baik aja kok, aku nggak apa-apa. jangan dipikirin ya", dan "kamu nggak seburuk yang kamu pikirkan kok".
Dan sejak itu, aku tahu kata sayang nggak hanya berbentuk "I love you" aja :)
Coffe Time
ReplyDeleteCoffe Time
ReplyDelete