Meninggalkan kamu saat weekend adalah satu dari sekian pekerjaan terberat yang sangat enggan aku lakukan. Rasanya seperti aku pergi dengan sebelah hati, rasanya sulit, rasanya tak menyenangkan. Tapi kamu selalu bilang "kalau kangen, ya pulang. Nggak usah ngomong doang". Oh dear, I know you are right.
Aku tahu di setiap weekend yang tak bersama, kamu selalu menahan rasa ingin menceritakan detail weekendmu, karena terlalu sedih untuk diceritakan. Dan di sisi lain, kamu nggak pengen itu mempengaruhi aku. Mempengaruhi komunikasiku dengan keluargaku.
Aku tahu bahwa setiap kali kita berjauhan, kamu ingin rasanya cepat-cepat pagi agar bisa dapat kabarku sudah pulang, sudah berada dalam jangkauan pelukanmu. Kamu bukan orang yang rajin memberikan teks atau telepon saat berjauhan. Aku di sini pun selalu menghitung waktu yang tersisa saat akhir minggu, untuk kembali menginjakkan kaki di kota yang sama denganmu.
Meninggalkanmu saat akhir minggu, tak sepenuhnya mauku. Kamu tahu itu dengan benar. Aku selalu berkelit untuk pulang atas nama menghabiskan akhir minggu denganmu. Rasanya 24 jam belum cukup, rasanya weekdays belum cukup untuk bersenang-senang. Selalu ada adiksi untuk menemuimu setiap hari. Satu hari tanpa bersamamu, tentu saja mengacaukan pola yang aku harapkan.
Sebentar lagi sayang. Bersabarlah. Maka tak akan lagi ada perpisahan di penghujung hari atau minggu. Sebentar lagi kamu bisa memilikiku sepuasnya. Kita pulang ke rumah yang sama, menyenderkan punggung pada alas yang sama. Sebentar lagi, sayang.
Atas semua kesabaranmu, usahanmu untuk menahan semua rasa sedih agar tak diluapkan kepadaku, usahamu untuk meyakinkanku bahwa kamu bisa pergi ke luar tanpa aku sesekali di weekend, usahamu untuk setidaknya tak mengeluh, aku ingin mengucapkan terima kasih. Pada harinya, akan aku bayar dengan izin untuk memilikiku seluruhnya.
No comments:
Post a Comment