Friday, 26 December 2014

Sesuatu yang Tak Seharusnya Aku Lupakan

"I really need to talk to a person right now", itu yang aku bilang ke kamu siang ini saat kamu nanya soal keadaan mentalku yang belakangan sedang tidak baik.

Aku dalam tahap sadar bahwa aku punya masalah. Percaya diri yang menurun drastis, ketakutan tak pernah sempurna untuk orang di sekitarku, dan yang paling fatal adalah I lost my self pride. Kayaknya udah hampir sebulan aku dihantui dengan mimpi buruk setiap malam, mengingat bahwa aku bawa masalah ini ke alam bawah sadar. Pernah akhirnya merangkak naik, tapi ya ada aja masalah yang belum selesai jadi aku belum pulih seluruhnya.

Aku pernah ada dalam masa-masa seperti ini juga dua kali. Pertama waktu SMA, kedua waktu peralihan SMA-kuliah. Keduanya berawal buruk dan aku harus menyeretkan kaki agar naik ke permukaan normal. Apa lagi saat itu, aku belum sematang sekarang. Namanya juga sedang dalam masa peralihan, banyak prinsip hidup yang sedang digodok. Ngeliat hal itu, seharusnya masa turun aku yang sekarang dapat diatasi lebih cepat dan lebih baik karena aku pernah mengalaminya dan pernah keluar darinya.

So that I ask for help.
Gambar dari sini

Beberapa waktu kemudian, kamu ngajak keluar sambil makan. Aku memang lapar, tapi beneran nggak berniat makan berat. Entah kenapa nafsu makanku menurun banget, biasanya kalo diajak makan paling doyan. But I said to my self that I need to take myself out in terms of refreshing a lil bit. Sebelumnya, aku juga udah mulai menenangkan diri dengan menulis beberapa postingan blog. Lumayan meringankan sedikit.

Moodku saat itu kayak muka segaris. I mean, I am tired of feeling guilty and low. I really want to defeat it and win. Aku nggak mau memasrahkan diri pada perasaan yang jujur bikin aku merana.

It was at Yoshinoya Mall Atrium, You started the conversation with value. Topik yang mana belakangan ini jarang aku pikirkan. Kamu tanya apa value yang aku punya selama ini, value apa yang aku punya tapi kamu ga punya, value apa yang menguntungkanku. Mendadak aku merasa malu. Hal-hal kecil yang secara sadar dan nggak sadar aku lakukan adalah value yang aku punya, dan aku harus bangga akan itu Sesederhana kalau makan selalu rapi, buang tempat sampah selalu di tempatnya, nggak terbiasa menghakimi orang in first place, easy-going yang bikin orang nggak ribet di sekitarku, atau mudah sekali mencari teman.

I never thought about this before as a real value of my self. Karena refleks melakukannya, aku jadi lupa untuk menghargainya. Memang membandingkan diri dengan orang lain nggak melulu baik, tapi kamu nunjukin kalau di masa-masa begini ngeliat perbandingan diri lebih maju daripada orang lain itu perlu untuk mengembalikan percaya diri dan pride. Aku jadi..... speechless.

Soal fisik apalagi, mungkin pacar aku yang dulu benar-benar bilang "aku nggak suka sama cewek gendut, kalo kamu masih gendut juga ya jangan salahin kalo aku nggak suka sama kamu". Tapi, itu kan dulu. Aku sekarang udah nggak sama dia yang nggak menghargai aku. I am now with someone else who could see me in different way. Waktu sama mantan, disuruh kurus nggak pernah kesampean. Eh pas sama kamu , badan saya malah tambah langsing walau dibebaskan punya angka timbangan berapa pun.

Kamu menyadarkan aku betapa aku harus ngerasa beruntung sama badanku. Bisa kurus, bisa gemuk, bisa langsing sesukaku, asal aku mau. Aku dari kecil sampe sekarang nggak pernah statis gitu berat badannya. Pasti beda-beda. Anehnya lagi, pakai baju kamu yang jelas-jelas ukurannya jauh di bawah ukuran normal bajuku, malah muat. Pun, aku punya tinggi yang semampai. You mean it as a real advantages for me. Aku jadi malu, aku nggak seharusnya ngeliat diri sendiri serendah itu. I am enough good, kok. :)

And the most important part is, ada banyak perempuan lain di luar sana yang lebih tinggi, kurus, cantik, lebih pinter padu padan baju dan jilbab, yet you choose me. Why? Because there are a bunch of values I have which they don't. I should be proud of this. I should be thankful. I should set my head up.

Kamu menambahkan bahwa ngedengerin semua kata orang lain (termasuk kamu) itu nggak pernah ada manfaatnya untukku. Orang lain boleh ngomong apa saja tentang aku, kepadaku. Tapi yang jadi penentu keputusan tetap aku. Takut dan merasa bersalah harusnya nggak ada dalam pilihan reaksi pertama yang aku lontarkan pada mereka kalau mereka lagi mengutarakan opini. Dibawa santai aja, kalo emang aku udah berusaha, nggak usah takut. Selow aja.

Dan soal kuliah, aku seharusnya berfokus pada proses. Bukan masalah wisuda, kalau udah belajar dan berusaha semampu saat di kelas, aku pasti akan lulus kok. Prosesnya lah yang harus aku nikmati. Then, if it can't help, let's change the word "kuliah" into "college". Ada imaji yang berbeda yang dihasilkan dari kata college. Instead of saying "kuliah" which makes me sick of remember horrible things. Brilliant idea, I must admit. ;)

Gambar dari sini

After hours of talk, I feel a lot better.

Berhubung aku orangnya pelupa, makanya catatan ini ada. Jadi kalau di masa depan aku jatuh di lubang yang sama lagi, aku nggak akan capek-capek buang waktu dan emosi untuk bertarung keluar dari dalamnya. Cukup baca postingan ini dan menyeret kakiku keluar perlahan.

I dedicated a whole complete package of thank to you for giving me a helping hand. Untuk tidak meninggalkanku di saat terendah.Untuk tetap memegang tanganku, menguatkanku hingga garis finish. Untuk tidak berkata "kamu urus masalahmu aja dulu, nanti kalau udah kelar baru balik ke aku" di saat seperti ini. Untuk tetap menyayangiku saat aku sangat membutuhkannya. Terima kasih sudah menjadi penyelamatku. Love us the most.

-- 18 Februari 2014. Tulisan ini dipindahkan dari blog sebelumnya

No comments:

Post a Comment